Inilah Kisah dan Sosok Seorang Polisi Yang Berprestasi


"polisi"Saat ini Korps Kepolisian sedang tersudut, demikian kutipan pernyataan Kapolri beberapa waktu lalu. Hal ini karena saat ini Polri sedang menghadapi sorotan tajam masyarakat terutama buntut kasus kriminaliasi KPK yang diduga melibatkan beberapa pejabat Polri. Buntutnya rasa skeptis masyarakat pada institusi pengayom masyarakat ini begitu kuat beberapa waktu terakhir ini. Namun mari kita milihat sosok lain dari seorang polisi yaitu Bripka Sukari,  mungkin beliau”asing” di jajaran kepolisian, di Surabaya sekalipun. Namun, nama itu cukup dikenal di kalangan atlet cabang olahraga atletik di Indonesia. Sukari memang termasuk atlet nasional yang sering mengharumkan nama kesatuan, nama kota, bahkan bangsa. Ya, selain berprofesi sebagai anggota polisi, Sukari adalah seorang atlet. Dia merupakan salah seorang sprinter nasional hingga saat ini. Spesialisasinya nomor 100 m dan estafet 4 x 100 m. Berkat prestasinya di dua nomor itu, pria 35 tahun asal Romo Kalisari, Benowo, tersebut mendapatkan julukan start block terbaik di Indonesia. Prestasi Sukari cukup membanggakan. Berbagai medali pernah diraihnya. Mulai kejuaraan nasional, PON, hingga SEA Games. Bahkan, dia pernah mengikuti Olimpiade di Sydney, Australia, pada 2000. Meski ”hanya” meraih peringkat kedelapan, itu sangat lebih dari cukup mengingat even tersebut diikuti puluhan atlet kelas dunia. ”Itu pengalaman yang tak akan terlupakan. Saya berlomba dengan para juara dari berbagai negara,” ungkap anggota Ditlantas Polda Jatim itu. Puluhan medali dan trofi dipajang rapi di rumahnya, RT 2, RW 1, Romo Kalisari. ”Ini belum semua. Beberapa medali saya simpan di dalam kamar,” ujar polisi yang sehari-hari bertugas di bagian penyerahan pelat nomor dan BPKB Samsat Surabaya Utara itu.

Bapak satu anak tersebut menceritakan, medali-medali itulah yang menjadi penyemangat hidupnya hingga saat ini. Setiap kali melihat medali itu, semangatnya untuk terus berlatih dan memenangkan lomba lari selalu kembali. ”Sampai sekarang, saya ingin terus berlari secepat dan sejauh mungkin buat negara dan kesatuan,” ujarnya sambil menunjukkan medali perak Singapore Open 1997. *** Bakat Sukari di olahraga atletik mulai tampak saat masih duduk di SDN Romo Kalisari. Namun, saat itu Sukari lebih tertarik sepak bola. ”Hobi saya main bola. Setiap kali main bola, saya selalu dijadikan striker karena lari saya cepat,” terangnya. Hingga pada 1985, Sukari mewakili sekolah dalam Porseni SD. ”Itu pertama saya jadi juara 1 lomba lari,” kenangnya sambil tersenyum. Dari situlah, bakat lari Sukari diketahui Totok, pelatih klub atletik Petrokimia Gresik. ”Dialah orang pertama yang menawari saya ikut latihan di klub.” Keinginan menggeluti dengan serius olahraga itu ditentang orang tuanya. ”Biasa, orang tua ingin saya sekolah saja,” ujar anak pasangan suami istri, Sanusi dan Sani, itu.

Namun, penentangan orang tua tersebut tidak berlangsung lama. Itu terjadi setelah Totok menjelaskan bahwa Sukari punya bakat lari yang besar dan harus dibina. Apalagi, di klub Petrokimia, kebutuhan Sukari dipenuhi. Dia tinggal di mes dan sekolahnya dijamin klub. ”Saya tahu, mereka hanya mengkhawatirkan masa depan saya nanti. Saya bangga kepada mereka,” ungkapnya. Sejak saat itu, Sukari mulai berlatih keras di bawah pembinaan Totok. Berbagai menu latihan berat dijalani tanpa mengeluh. Mulai latihan teknik hingga latihan beban. Hasilnya, pada usia yang masih belia, Sukari masuk dalam daftar atlet lari PON mewakili Jawa Timur. ”Pertama saya jadi atlet profesional di PON saat masih duduk di kelas 2 SMP,” katanya. Sejak saat itu, prestasi Sukari sebagai pelari terus meningkat.

Dia pun sering menang di berbagai kejuaraan. Total sekitar 12 kejuaraan lari profesional telah diikuti dan dimenangkan Sukari. ”Itu semua saya ikuti begitu saja. Dan, alhamdulillah saya selalu bisa mempersembahkan yang terbaik,” ungkapnya. Dari berbagai kejuaraan yang pernah diikuti tersebut, pengalaman berlomba yang paling diingatnya hingga saat ini adalah saat menjuarai lari 100 m pada Indonesia Open 1996. Saat itu, lutut Sukari mengalami luka lecet karena terjatuh saat bertanding di semifinal. ”Saya terjatuh saat finis dan saya hanya punya waktu setengah jam perawatan untuk kembali bertanding di final,” ceritanya. Mental juaralah yang mendorong Sukari untuk tidak menyerah pada keadaan. Di luar dugaan, dia mampu meraih juara pertama, meski dalam kondisi luka. ”Saya juga sempat tidak percaya kalau saya bisa juara. Padahal, kaki saya babras semua” ungkapnya sambil tersenyum.

Sukari mengatakan sangat beruntung bisa menjadi atlet cabang lari. Sebab, dari olahraga itu, dia bisa masuk dan mengabdi sebagai anggota polisi. Dia tercatat sebagai anggota Polri pada 1994 setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Lido. Bersama 20 atlet pelatnas lain, dia menjadi polisi melalui jalur prestasi tanpa tes. ”Yang menawari saya masuk polisi waktu itu Letkol Sugiri, Kabag Bin Jas Mabes Polri. Saya mau saja,” katanya. Begitu jadi polisi, Sukari langsung bertugas di staf bagian kesehatan jasmani di Mabes Polri. Dia pindah tugas ke Polda Jawa Timur pada 2000 sebagai staf BPKB. Hanya empat tahun di sana, Sukari pindah tugas ke Samsat Surabaya Utara sebagai staf bagian pengambilan pelat nomor. ”Saya berterima kasih kepada kesatuan saya yang selalu mengizinkan saya untuk bolos jika harus berlatih di pelatnas maupun untuk mengikuti kejuaraan,” katanya. Meski usia sudah tidak lagi muda, hingga saat ini Sukari masih menjadi atlet andalan Jatim. ”Tapi, untuk PON Riau nanti, saya belum dipanggil untuk mengikuti puslatda,” uajrnya.

Berlatih Setahun di Amerika Tak pernah terbayang di benak Sukari bahwa keuletannya berlatih lari bisa membawa dirinya hingga ke Amerika. Di Negara Paman Sam itu, dia bersama 19 atlet nasional lain mengikuti training center (TC) selama setahun. ”Saya ke Amerika awal Januari hingga 7 Desember 1996,” katanya. Di sana, Sukari tinggal di Kota Huston, negara bagian Texas. TC itu bertujuan untuk persiapan Sea Games XVIII 1997 di Jakarta. Dia dilatih langsung oleh pelari-pelari kelas dunia asal Amerika saat itu. Di antaranya, Tom Telles dan Carl Lewis. Sukari mengungkapkan, berlatih di Amerika tersebut merupakan pengalaman yang tak pernah bisa dia lupakan. Sebab, arek Suroboyo itu tak pernah menyangka dirinya bisa terbang ke negara adidaya itu dan berlatih bersama pelari-pelari top dunia. ”Saya sangat bersyukur. Rasanya seperti mimpi bisa melihat indahnya negara lain sambil berlatih lari di sana,” ujarnya. Selama TC, Sukari diajari berbagai teknik berlari yang baik oleh Carl Lewis. Mulai teknik start block sampai teknik pernapasan yang benar. ”Saya salut pada cara mereka melatih. Jauh berbeda dari latihan di Indonesia,” tegasnya sambil mengingat masa itu. Lebih lanjut dia menjelaskan, perbedaan mendasar teknik latihan yang diterima di Amerika adalah atlet tidak sampai mengalami kelelahan. Sedangkan di Indonesia, atlet berlatih sampai lelah. ”Carl mengatakan, kalau teknik berlari dan teknik pernapasan sudah benar, pelari bisa berlari sekencang yang dia mampu,” ungkapnya.

Hubungan baik Sukari dengan Carl selama TC melebihi hubungan seorang pelatih dengan atlet. ”Dia (Carl) menganggap saya seperti sahabat, meski kendala bahasa masih sering kami alami,” katanya lantas tersenyum. Lebih-lebih, suatu saat, keduanya dicoba untuk berlomba. Saat itu, Sukari mampu mengimbangi kecepatan lari Carl dalam 20 meter pertama. ”Penilaian itu saya dengar dari para pelatih,” ujarnya. Ada satu hal lain yang membuat Sukari terkesan saat berlatih di Huston. Setiap hari, dia dan 19 atlet lainnya pulang pergi latihan diantar menggunakan limusin. ”Benar-benar pengalaman luar biasa,” katanya lantas terkekeh. Pemusatan latihan di Amerika itu tidak sia-sia. Terbukti, Sukari akhirnya meraih medali emas pada Singapore Open dan Sea Games XVIII 1997. Hingga kini, dia masih memendam satu keinginan. Dirinya ingin bisa menularkan bakat berlarinya kepada seorang penerus yang mampu mewujudkan ambisinya menjadi juara dunia. ”Nanti kalau waktunya sudah tepat, saya tularkan teknik dan bakat saya kepada orang itu,” tegasnya. (Jawapos)

7 thoughts on “Inilah Kisah dan Sosok Seorang Polisi Yang Berprestasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s